Kenali 5 Penyebab Batuk Pilek Pada Bayi

batuk pilek bayi
sumber gambar = https://www.alodokter.com/bagaimana-cara-mengatasi-pilek-pada-bayi

Saat musim hujan bayi paling rentan terkena penyakit, salah satunya yaitu batuk pilek. Batuk pilek merupakan jenis penyakit yang paling sering ditemukan saat di musim hujan. Masih banyak orang tua yang belum paham / mengerti mengenai penyebab & cara mengatasi batuk pilek pada bayi. Berikut Solusi Anak Hebat berikan penjelasannya

Penyebab Batuk Pilek Bayi

  • Pilek atau flu

Ini merupakan penyebab batuk yang umum terjadi pada si kecil. Akibat flu atau pilek, bayi biasanya mengalami batuk berdahak, yang sering memburuk pada malam hari. Pasalnya, ketika si kecil berbaring, lendir menetes dari bagian belakang hidung dan mulutnya ke tenggorokan sehingga memicu batuk. Batuk jenis ini umumnya akan mereda dalam waktu tiga hingga enam minggu hingga gejala flu pada anak hilang. Selain itu, batuk juga sering disertai dengan bersin, hidung beringus, mata berair, demam pada bayi yang rendah, serta nafsu makan berkurang.

  • Croup

Merupakan peradangan pada saluran napas bagian atas (laring dan trakea). Peradangan menyebabkan saluran napas membengkak, sehingga bayi sulit bernapas dan mengeluarkan batuk kering seperti gonggongan. Selain batuk, gejala croup sering disertai dengan demam, hidung tersumbar atau meler, suara serak, muncul suara melengking saat menghirup udara, dan sesak napas. Gejala biasanya semakin parah saat malam hari dan ketika bayi menangis.

Sebagian besar kasus croup disebabkan oleh virus, seperti virus parainfluenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan adenovirus. Umumnya, kondisi ini bersifat ringan dan dapat diobati di rumah, meski bisa juga menjadi parah.

  • Batuk Rejan

merupakan kondisi yang serius pada bayi dan bisa mematikan. Ini merupakan penyakit menular yang terjadi akibat infeksi bakteri Bordetella pertussis pada saluran pernapasan. Selain batuk berkepanjangan, kondisi ini juga ditandai dengan tarikan napas yang mengeluarkan suara bernada tinggi “whoop” atau mengi (berbunyi ngik ngik).

Selain itu, gejala lain yang muncul bisa berupa demam dan hidung meler. Adapun bayi di bawah usia 6 bulan lebih mungkin mengalami komplikasi dari pertusis, seperti pneumonia dan ensefalopati. Pemberian vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus) dapat membantu mengurangi risiko penularannya pada bayi.

  • Bronkitis

infeksi paru-paru yang umum terjadi pada anak-anak dan bayi di bawah usia 12 bulan. Umumnya, kondisi ini terjadi karena infeksi virus dan sering kali memuncak saat cuaca dingin. Gejala bronkiolitis mirip dengan flu biasa, seperti hidung meler dan demam ringan. Namun, lambat laun, bayi menjadi batuk, mengi, dan kesulitan bernapas. Adapun gejala ini sering terjadi selama beberapa hari atau bahkan minggu. Sebagian besar kasus bronkiolitis pada bayi pun umumnya bersifat ringan. Namun, jika infeksi semakin parah, bronkiolitis dapat mengancam keselamatan jiwa si kecil.

  • Pneumonia

Banyak infeksi pada paru-paru yang dimulai dengan gejala seperti flu. Selain bronkiolitis, pneumonia juga bisa menjadi penyebabnya. Pneumonia merupakan infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Kondisi ini menyebabkan paru-paru memproduksi dahak berlebih, sehingga memicu batuk pada si kecil. Selain itu, pneumonia pada anak bayi juga sering disertai dengan demam tinggi, meriang, sulit bernapas, nyeri dada (terutama saat batuk), dan kelelahan yang tak biasa. Untuk mengatasinya, dokter mungkin akan memberikan antibiotik untuk bayi Anda.

 

Sumber = hellosehat

Tinggalkan Balasan

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping